Memaafkan Tidaklah Sulit, Tetapi Sebuah Proses

Setiap hari Senin malam, saya mengajar kelas Power Meditation di The Golden Space. Salah satu tema yang saya angkat di kelas tersebut adalah tentang forgiveness atau memaafkan/memberikan pengampunan.

Banyak orang mungkin mengartikan memaafkan/pengampunan hanya sebagai proses merelakan atau melanjutkan hidup. Namun, menurut Bob Enright, PhD, seorang psikolog dari University of Wisconsin, Madison, yang merupakan pelopor studi pengampunan sejak tiga dekade yang lalu, definisi memaafkan/pengampunan yang sesungguhnya lebih dalam dari itu. Pengampunan menawarkan sesuatu yang positif—yaitu empati, kasih sayang, dan pengertian—terhadap orang yang menyakiti kita. Ketiga elemen itulah yang membuat pengampunan sebagai suatu kebaikan sekaligus fondasi yang kokoh untuk hidup dengan harmonis.

Foto dari sini

Harvard Medical School juga melaporkan bahwa memaafkan dapat mendatangkan manfaat kesehatan yang sangat baik seperti mengurangi tingkat depresi, kecemasan, dan tekanan; mengurangi penggunaan narkoba; meningkatkan harga diri; dan kepuasan hidup yang lebih baik.

Sebagian dari kita mungkin berpikir bahwa memaafkan itu sulit. Kabar baiknya, penelitian yang dilakukan para psikolog dari Yale University, University of Oxford, University College London, dan the International School for Advanced Studies menunjukkan bahwa ternyata otak kita membentuk impresi sosial yang dapat mengizinkan pengampunan. Oleh karena itu, sesungguhnya kita secara alami sudah dirancang untuk bisa memaafkan namun banyak dari kita mungkin tidak tahu caranya.

Berikut 5 langkah yang dapat Anda lakukan untuk memaafkan dengan tulus:

1. Izinkan diri untuk merasakan semua emosi

Saat kita tersakiti, terkadang kita tidak ingin merasakan emosi yang muncul akibat rasa sakit itu karena takut dihakimi sebagai pihak yang lemah, kalah, kekanak-kanakan, pemarah, dsb. Penelitian yang dilakukan oleh Marcus Mund dari Institut für Psychologie, Friedrich-Schiller-Universität Jena, Jerman, menunjukkan bahwa orang yang menahan emosi negatifnya memiliki risiko yang lebih besar terkena penyakit kanker dan jantung. Jadi, jika ingin sehat sebetulkan kita harus mengizinkan diri untuk merasa, dan ini dapat disebut sebagai bentuk penghargaan dan cinta kita terhadap diri sendiri.


2. Ungkapkan perasaan Anda

Salah satu cara efektif untuk mengungkapkan perasaan Anda adalah dengan menulis. Selama satu dekade terakhir, semakin banyak penelitian yang membuktikan bahwa menuliskan pengalaman emosi ternyata membantu meningkatkan kualitas kesehatan fisik dan mental. James W. Pennebaker dari the University of Texas at Austin memaparkan bahwa menulis memaksa seseorang untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi kembali kehidupan mereka. Aktivitas menulis sendiri membutuhkan tingkat struktur tertentu dan juga kemampuan dasar untuk mengidentifikasi dan mengakui perasaan individu ybs. Oleh karena itu, mulaikah menulis atau menjurnal untuk mengungkapkan emosi Anda.

Cara lain untuk bisa mengekspresikan perasaan adalah dengan metode visualisasi di meditasi dimana Anda dapat mengungkapkan kemarahan, kesedihan, kekecewaan, dan emosi lainnya terhadap orang yang menyakiti Anda, sehingga membantu Anda melepaskan dan memproses emosi tsb. Salah satu teknik yang biasanya saya gunakan untuk memproses emosi dalam meditasi adalah dengan metode napas cepat yang membantu otak memproses lebih cepat dan terapi teriak yang merangsang hormon kebahagiaan berupa dopamin dan endorfin.


3. Pahami mengapa mereka melakukan itu

Bayangkan diri Anda ada di posisi mereka. Dr. Tyler VanderWeele, direktur dari Health, Religion, and Spirituality Initiative di Harvard T.H. Chan School of Public Health mengatakan "Seseorang yang menyerang orang lain kadangkala berada dalam kondisi ketakutan, khawatir, atau tersakiti. Mereka seringkali tidak berpikir saat mereka menyakiti orang lain, mereka meledak begitu saja.” Cobalah untuk memahami mengapa orang tsb menyakiti Anda dari perspektifnya, tanpa harus mengurangi atau meremehkan kesalahan yang terjadi. Terkadang kesalahan itu tidak terkait pribadi kita, namun karena ada suatu masalah yang sedang ia hadapi. Anda juga dapat melakukan tahap ini di meditasi.


4. Temukan pelajaran/hikmah yang dapat diambil

Peneliltian yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships oleh Erica B. Slotter dan Deborah E. Ward dari Villanova University, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa jika Anda fokus terhadap hasil positif daripada hasil negatif dari sebuah kondisi yang menyakitkan, maka tekanan emosional akan berkurang. Oleh karena itu, temukanlah kebaikan/hikmah dari kejadian yang menyakiti Anda. Pelajaran tsb. bisa jadi mengajari Anda untuk mencintai diri lebih baik, untuk berbesar hati, untuk menjadi lebih kuat, lebih mandiri, lebih sabar, dsb.


5. Maafkan mereka dengan tulus

Berkati mereka dengan pengampunan Anda. Ingatlah masa-masa dimana Anda pernah melakukan kesalahan dan dimaafkan. Berikanlah kado ini kepada mereka yang pernah menyakiti Anda tanpa mengharap imbalan apapun. Saat Anda memaafkan, sesungguhnya Anda sudah membebaskan diri sendiri dari penderitaan akibat kemarahan dan ketidakadilan yang sebelumnya membelenggu. 


Kelima langkah di atas harus dilakukan dalam tahapan yang berurutan, tanpa ada yang terlewati. Kesimpulannya, memaafkan adalah sebuah proses yang membutuhkan usaha dan kesabaran, hingga akhirnya sampai pada suatu momen dimana kita dapat berterima kasih kepada orang-orang yang sudah menyakiti kita, termasuk diri kita sendiri, karena sesungguhnya, tanpa mereka yang menyakiti kita, atau tanpa kesalahan yang kita perbuat, kita tidak akan pernah belajar untuk menghargai dan mencintai diri sendiri dengan lebih baik, atau menyadari betapa besarnya cinta dan kekuatan yang ada di dalam diri agar bisa berdamai dengan diri kita dan masa lalu kita sepenuhnya.

Foto dari sini

Ya, ternyata memaafkan memang bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri kita sendiri.

Memaafkan adalah salah satu bentuk mencintai diri sendiri dan itulah kekuatanmu. Self-love IS power.


Namaste dan salam hangat penuh cinta,

Bagia

Comments